Misteri Imunitas: Mengapa Wanita Lebih Rentan Terkena Autoimun Dibanding Pria?
Sistem imun sejatinya adalah pahlawan pelindung tubuh dari serangan virus dan bakteri. Namun, apa jadinya jika sang pahlawan justru keliru dan menyerang tubuh sendiri? Kondisi inilah yang disebut dengan penyakit autoimun, seperti lupus, rheumatoid arthritis, hingga psoriasis.
Uniknya, ada sebuah misteri besar dalam dunia medis: sekitar 80% penderita penyakit autoimun adalah wanita. Mengapa sistem imun wanita jauh lebih agresif hingga rentan “salah sasaran”?
1. Faktor Kromosom X Ganda
Secara genetika, pria memiliki kromosom XY, sedangkan wanita memiliki kromosom XX. Kromosom X adalah tempat di mana banyak gen yang mengatur sistem kekebalan tubuh berada. Karena wanita memiliki dua kromosom X, mereka memiliki sistem imun yang lebih kuat untuk bertahan dari infeksi.
Namun, kekuatan ekstra ini punya efek samping. Jika mekanisme tubuh dalam “menonaktifkan” salah satu kromosom X itu mengalami gangguan, sistem imun bisa menjadi terlalu aktif dan berbalik menyerang sel-sel sehat.
2. Pengaruh Hormon Estrogen
Hormon juga memegang peran krusial. Hormon estrogen pada wanita dikenal dapat merangsang dan meningkatkan respons imun tubuh. Di satu sisi, ini membuat wanita lebih kebal terhadap beberapa jenis infeksi dibanding pria. Namun di sisi lain, fluktuasi estrogen yang tajam—seperti saat pubertas, kehamilan, dan menopause—bisa menjadi pemantik aktifnya penyakit autoimun. Sebaliknya, hormon testosteron pada pria cenderung bersifat menekan peradangan (anti-inflamasi), yang memberikan perlindungan lebih dari penyakit ini.
Apa Kata Penelitian Terbaru?
Misteri ini mulai terkuak lebih jelas lewat sebuah penelitian besar yang diterbitkan dalam jurnal ilmiah bergengsi, Cell (Februari 2024), oleh tim peneliti dari Stanford University School of Medicine.
Para peneliti menemukan molekul bernama Xist. Molekul ini hanya ada pada wanita karena fungsinya adalah membantu meredam salah satu kromosom X agar tidak kelebihan beban protein.
Menariknya, untaian molekul Xist ini sering kali membentuk gumpalan protein aneh di dalam sel. Bagi sistem imun yang terlalu sensitif, gumpalan protein Xist ini dianggap sebagai “benda asing” yang berbahaya. Akibatnya, tubuh memproduksi autoantibodi untuk menyerang selnya sendiri. Penemuan genetik inilah yang menjadi bukti kuat mengapa tubuh wanita lebih rentan mengalami “salah paham” imun.
KONSULTASI AUTOIMUNE SEKARANGKesimpulan
Kekuatan imun wanita yang hebat bagaikan pisau bermata dua. Di satu sisi membuat wanita lebih tangguh melawan infeksi, namun di sisi lain menyimpan risiko autoimun yang lebih tinggi. Untungnya, dengan penemuan molekul Xist oleh para ilmuwan Stanford ini, pintu bagi metode diagnosis yang lebih cepat dan pengobatan yang lebih tepat untuk wanita di masa depan telah terbuka lebar.

